Home » , , » Dua Perantara Arwah Gagal Unjuk Gigi di Laboratorium Sains

Dua Perantara Arwah Gagal Unjuk Gigi di Laboratorium Sains


Dua paranormal diuji di laboratorium sains
Dua paranormal diuji di laboratorium sains
Proses berkomunikasi dengan arwah bisa dilakukan secara langsung atau melalui perantaraan medium. Perantara inilah yang berperan menghubungkan manusia hidup dengan dunia roh, ataupun dengan roh-roh orang yang telah meninggal.

Apa jadinya jika paranormal profesional diminta unjuk gigi dalam sebuah tes di laboratorium universitas?

Patricia Putt dan Kim Whitton, yang mencari nafkah dengan menjadi perantara, menerima tantangan para ilmuwan dari Goldsmiths University. Keduanya menilai, tes untuk menguji kemampuan mereka adalah sebuah kewajaran.

Profesor Chris French, kepala unit riset psikologi anomalistik di Goldsmiths University merancang eksperimen, di mana dua paranormal diminta untuk menebak karakteristik lima orang yang dipilih secara acak, yang duduk di balik layar yang tak terlihat.

Dengan para subyek yang diwajibkan diam, dua medium itu diminta untuk menuliskan catatan yang berkaitan dengan orang-orang tersebut. "Kim dan Patricia awalnya merasa mereka tak akan menemui kesulitan untuk menyelesaikan ujian ini," kata Profsor French.
Namun, hasil akhirnya tak sesuai dengan keyakinan mereka, keduanya tak mampu menebak satu pun di antara lima orang tersebut. Meski demikian pihak universitas tetap menghargai dua perantara tersebut yang mau bekerja sama.

Kedua medium ambil bagian dalam tes yang diadakan oleh Merseyside Skeptics Society, yang bekerja sama dengan para ilmuwan untuk menguak kemampuan yang mereka gunakan dalam pekerjaan mereka.
Mengapa gagal?
Kim Whitton punya pengalaman 15 tahun sebagai medium dan penyembuh di London. Ini kali pertamanya kekuatannya diuji secara ilmiah.

Sementara bagi Patricia Putt, ini adalah tes keduanya. Pada 2009 lalu ia ambil bagian dalam sayembara James Randi Educational Foundation Million Dollar Challenge, yang menawarkan iming-iming hadiah uang bagi siapa saja yang mampu mendemonstrasikan kekuatan paranormal mereka dalam laboratorium. Tes tersebut juga diadakan di Goldsmith dan dilakukan oleh orang yang sama, Profesor Chris French. Saat itu dia juga gagal.

Meskipun hasilnya mengecewakan, paranormal itu tak kapok. "Aku selalu ingin terlibat dalam uji coba semacam ini. Aku ingin menjembatani jarak antara kekuatan paranormal dengan sains. Aku merasa nyaman-nyaman saja dengan tes semacam ini."

Bagaimana jika kalangan skeptis menggunakan hasil riset sebagai sanggahan atas kekuatan paranormal?

"Mereka yang skeptis harus menyadari, tak semua hal bisa dilihat, didengar, dirasakan seperti material solid yang busa kita lihat dengan mata, telinga, dan tubuh. Paranormal dan medium menggunakan bagian lain dari otak yang tidak dikembangkan secara maksimal pada orang kebanyakan."

Semenatra soal kegagalan mereka, Putt punya alasan. Dia mengatakan, paranormal selalu melakukan pekerjaannya secara tatap muka. Bekerja dalam kondisi "buta" sangat menyulitkan para medium.

Sebaliknya, Michael Marshall, Wakil Ketua Merseyside Skeptics Society mengatakan, meski hasil percobaan tak secara spesifik menyangkal kemampuan paranormal, namun fakta dua medium gagal melalui tes yang dilakukan secara fair dan relatif mudah, tampaknya mengisyaratkan klaim kemampuan mereka tidak berdasarkan kenyataan.
"Aku menduga, orang-orang seperti Pat dan Kim secara intuitif mengambil petunjuk-petunjuk yang kentara sebagai dasar, seperti bahasa tubuh, isyarat vervbal, dan sebagainya. Yang memberi ilusi kemampuan paranormal," kata dia.

"Setelah ratusan tahun menyelidiki klaim tersebut, tak seorang pun yang pernah dan mampu menunjukkan bahwa kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang mati bisa dijelaskan secara ilmiah."